Wali Kota Tegal Dedy Yon Hantarkan Kimsim Menuju Altar Dewa Tek Hay Cin Jin

yahya, 08 Feb 2020, PDF
Share w.App T.Me
INDONESIASATU.CO.ID:

Tegal. Dalam rangka menyambut Cap Go Meh sebagai hari ke 15 perayaan Imlek, masyarakat keturunan Tionghoa kota Tegal melakukan tradisi ritual gotong Toa Pe Kong yang dimulai dari Klenteng Tek Hay Kiong menuju pelabuhan (Pantai) tempat yang diyakini sebagai tempat pendaratan pertama Tek Hay Cin Jin.

Pergelaran kirab Toa Pe Kong ke pelabuhan itu sendiri dilakukan masyarakat keturuanan Tionghoa sebagai bentuk mengenang dewa Tek Hay Cin Jin serta melakukan sembahyang pantai atau sembahyang dewa Tuan Rumah Tek Hay Kiong yakni Kongco Kwee Lak Kwa sebagaimana umat Konghucu melaksanakan ibadahnya.

Terdapat 8 tandu yang dikeluarkan dari Klenteng Tek Hay Kiong Kota Tegal, dimana tiap tandu berisi Kimsim atau rupa para dewa yang akan dipersembahkan di meja altar persembahan di pantai yang sudah dipersiapkan oleh umat Konghucu. Satu diantara tandu yang berisi Kimsin tersebut diusung Walikota Tegal H. Dedy Yon Supriyono, SE.MM menuju meja altar persembahan. Setidaknya dalam perayaan yang juga disertai ibadah tersebut terdapat harapan doa untuk keselamatan Indonesia dari bencana.

Dedy Yon Supriyono yang mengenakan busana tradisional Tionghoa menggotong Toa Pe Kong secara bergiliran dengan forkopimda Kota Tegal. Bahkan sesampai dikawasan Pelabuha, Walikota Tegal turut terlibat atraksi menjadi Barongsai bersama Wakapolres Tegal Kota Joko Wicaksono sebagai simbol kedekatan kepala daerah dengan masyarakatnya.

Umat Konghucu kemudian menggelar rangkaian sembahyang didepan altar yang sudah disiapkan untuk pelaksanaan ibadah dan tandu-tandu berisi kimsin. Prosesi kirab hingga ibadah tersebut turut disaksikan Wakil Walikota Tegal H. Muhamad Jumadi, ST. MM dan isteri serta jajaran pejabat Forkopimda yang mengikuti kepala daerah dan ratusan warga lainnya yang juga turut hadir.

Kebebasan masyarakat Tionghoa dalam menjalankan keyakinannya pada umumnya sempat terpasung sejak terlewatkannya tragedi tahun 1965. Selanjutnya selama puluhan tahun semasa pemerintahan orde baru, mereka hanya dapat melakukan kegiatan dengan pembatasan yang sangat ketat. Khusus di kota Tegal, usung Toa Pe Kong hanya diizinkan sepanjang jalan Veteran. Hal itu terikat adanya Instruksi Presiden Nomor 14 Tahun 1967 tentang Agama, Kepercayaan dan Adat Istiadat China.

Kini, kirab Toa Pe Kong tidak hanya menjadi  destinasi wisata eksklusif warga keturunan Tionghoa saja, namun masyarakat umum dari berbagai latar belakang turut menikmati kirab Toa Pe Kong menuju hari Cap Go Meh atau perayaan hari raya Yuan Xiao di Kota Tegal.

Tercatat semenjak kran kebebasan semasa pemerintahan Gus Dur dibuka, dalam era reformasi hingga sekarang sudah terdapat beberapa pejabat Kota Tegal yang turut terlibat menggotong Toa Pe Kong menuju ibadah sembahyang pantai seperti mantan Walikota Tegal H. Ikmal Jaya SE.Akt, Kapolres Tegal Kota, AKPB Siti Rondhijah, S.Si, M.Kes dan yang terkini Walikota Tegal H. Dedy Yon Supriyono, SE.MM serta beberapa pejabat Forkopimda Kota Tegal. (Anis Yahya / ***)

PT. Jurnalis Indonesia Satu

Kantor Redaksi: JAKARTA - Jl. Terusan I Gusti Ngurah Rai, Ruko Warna Warni No.7 Pondok Kopi Jakarta Timur 13460

Kantor Redaksi: CIPUTAT - Jl. Ibnu Khaldun I No 2 RT 001 RW 006 Kel Pisangan Kec Ciputat Timur (Depan Kampus UIN Jakarta)

+62 (021) 221.06.700

(+62821) 2381 3986

jurnalisindonesiasatu@gmail.com

Redaksi. Pedoman Siber.
Kode Perilaku.

Mitra Kami
Subscribe situs kami
Media Group IndonesiaSatu